PuKAT

BERKUNJUNG KE RUMAH TALSYA DI USIA SENJANYA

TEUKU ALI BASYAH TALSYA

TEUKU ALI BASYAH TALSYA

Oleh: Syukri Isa Bluka Teubai

Hari-hari terus berlalu dan tiada yang akan mampu untuk merayu waktu. Siapapun itu. Bagaimanapun caranya, walau dengan apa sahaja. Sungguh tiada yang sanggup, belum ada yang mampu dan tiada akan pernah mampu untuk mengulanginya. Kita (manusia) hanya bisa untuk melewatinya, meninggalkannya sahaja.

Hari Rabu, tanggal 29 Juni 2016. Menjelang sore harinya, penulis berkesempatan hadir untuk berkunjung adakalanya bersilaturrahmi ke rumah salah seorang tokoh Aceh di masa Ali Hasjmy dahulu, mungkin apabila penulis tiada berkesempatan di hari dan di waktu itu, sampai sekarang masih belum tahu bahkan mengetahui bahawa sekarang ini masih ada tokoh Aceh terdahulu.

Oleh kerana kesempatan tersebutlah (diajak oleh kanda Thayeb Loh Angen dan Dr. Mehmet Ozay), hari ini penulis tahu bahawa masih ada saksi hidup akan sekalian sejarah di negeri ini. Dan juga memang sudah menjadi tanggung jawab generasi muda untuk mencari, membenahi, memahami yang namanya sejarah. Supaya di masanya (kita) nanti, generasi-generasi penerus bangsa ini tidak termasuk ke dalam golongan penyemai lada, di kala pesawat sudah terbang.  Tiada gunanya lagi.

Sesampainya di hadapan pintu pagar rumah orang yang dimaksud, kami yang baru datang telah ditunggu oleh Dr. Mehmet Ozay, ia duluan sampai dan sendiri. Penulis berboncengan satu kereta dengan Wildan El Fadhil, Ariful Azmi Usman berboncengan satu kereta juga dengan Thayeb Loh Angen. Kereta sudah terparkir rapi. Kamipun mulai menggerakkan langkah untuk masuk ke halaman rumah tersebut. (more…)

Advertisements

KOLEKTOR HARUN KEUCHIK LEUMIEK DAN BUKUNYA

WN dan Buku H Harun K Leumiek - istimewa - portalsatu

Budayawan dan tokoh pers Aceh, H Harun Keuchik Leumiek menyerahkan buku Kemilau Budaya Aceh kepada PYM Wali Nanggroe Aceh Tengku Malik Mahmud Alhaythar di ruang rapat Wali Nanggroe Aceh di kantor MAA Banda Aceh, Rabu 8 Juni 2016. @Istimewa/portalsatu.com

BANDA ACEH – Budayawan dan tokoh pers Aceh, Harun Keuchik Leumiek, sejak lama menyimpan Al-quran tulisan tangan berusia ratusan tahun, yang jumlahnya 13 buah.

Ada 1.000 dirham dari kerajaan Pasee dan Aceh Darussalam pada abad ke 13 dan 17. Selain itu ada pula benda bersejarah lainnya ia simpan di museum kecilnya.

Hal itu dikatakan H Harun saat bersilaturrahmi sekaligus menyerahkan buku “Kemilau Budaya Aceh” karyanya kepada Wali Nanggroe Aceh di ruang rapat Wali Nanggroe, Kantor Majelis Adat Aceh (MAA), Rabu 8 Juni 2016.

H Harun yang juga pengusaha emas ini mengatakan, telah menyelamatkan benda bersejarah dan khazanah budaya Aceh sejak tahun 1980-an. Ini semua dilakukan demi masa depan Aceh yang lebih baik.

Dari sejumlah benda dan khazanah benda bersejarah tersebut, di antaranya berupa manuskrip dan kitab kuno. Koleksi musium emas, peran, suasana yang usia ratusan tahun. Begitu juga senjata Aceh, rencong dan siwa yang kini tak dibuat lagi.

Guna menjaga kelestarian dan keselamatan benda ini berlanjut, menurut Harun yang juga tokoh pers di Aceh ini, sudah mewasiatkan kepada anak dan cucunya, agar benda tersebut tidak boleh dijual belikan dan harus dipelihara, karena ini khazanah budaya yang harus dijaga dan dipelihara. (more…)

KEDERMAWANAN ZUBAIDA UNTUK JAMAAH HAJI

tesyasblog-banda-aceh-transit-04-masjid-raya-1.jpgPascameninggalnya Khayzuran, Harun al-Rasyid menikah dengan seorang perempuan bernama Zubaida. Ia adalah keponakan dari Khayzuran dan cucu dari al-Mansur.

Zubaida dikenal sebagai seorang yang bersahaja. Ia juga dianggap sebagai perempuan yang pandai berkelakar. Sebab, ia kerap membagi cerita-cerita humor yang pernah didengarnya melalui cerita kakeknya, al-Mansur.

Zubaida juga dipandang sebagai seorang yang berbudi luhur. Di kediamannya, ada sekitar seratus hamba perempuan yang ia beri tugas untuk menghafal Alquran setiap harinya. Lantunan ayat-ayat suci pun selalu menggema di istananya.

Hidup pada masa puncak Kekhalifahan Abbasiah membuat Zubaida memiliki selera dan gaya hidup yang mewah dan eksklusif. Menurut al-Zubayr, melalui bukunya, Book of Gifts and Rarities, yang ditulis pada abad ke-11, biaya

Pascameninggalnya Khayzuran, Harun al-Rasyid menikah dengan seorang perempuan bernama Zubaida. Ia adalah keponakan dari Khayzuran dan cucu dari al-Mansur.

Zubaida dikenal sebagai seorang yang bersahaja. Ia juga dianggap sebagai perempuan yang pandai berkelakar. Sebab, ia kerap membagi cerita-cerita humor yang pernah didengarnya melalui cerita kakeknya, al-Mansur. (more…)

MUHTEREM ARAS UKIR SEJARAH, MUSLIMAH PERTAMA DI PARLEMEN JERMAN

muhterem-arasWajah parlemen Jerman telah berubah. Seorang muslimah mencatatkan sejarah baru setelah terpilih sebagai ketua parlemen Jerman.

Dia adalah Muhterem Aras, 50, politisi dari Partai Hijau. Dia berhasil mengambil alih kursi kepemimpinan di Baden-Wurttemberg dari anggota partai anti-imigrasi populis pada Rabu lalu.

“Kami menulis sejarah hari ini,” ujar Aras setelah menyapu pemilihan dengan suara mayoritas.

Aras mengatakan kemenangannya membawa pesan tentang keterbukaan, toleransi, dan kesuksesan integrasi.

Terlahir di Turki, dia pindah ke sebuah kota kecil di dekat Stuttgard bersama kedua orangtuanya saat dia masih anak-anak. Dia kemudian belajar ilmu ekonomi sebelum mendirikan perusahaan konsultan pajak miliknya sendiri. (more…)

MENGAPA PARA SAUDAGAR ACEH BELUM TERTARIK BISNIS BIDANG SENI DAN BUDAYA?

logo lembaga pendidikan saudagar aceh_from_acehdesain

Ilustrasi. @acehdesain

Sejak beberapa tahun lalu, pertanyaan tersebut muncul di benakku. Mengapa saudagar di Aceh belum tertarik bisnis berbasis seni dan budaya? Apakah mereka tidak menyukai hal itu atau belum tahu bahwa hal tersebut juga menguntungkan dari sisi bisnis, atau mereka tidak mengerti tentangnya?

Bisnis dalam bidang seni dan budaya, seperti membuat film layar lebar bertajuk sejarah atau hal serupa, seni kriya, seni gambar khas Aceh, dan sebagainya.

Belum tertariknya orang Aceh untuk terjun ke dalam bisnis tersebut membuatnya sulit untuk bangkit mengembangi seni serupa yang datang dari luar. Memang ada beberapa karya di Aceh tentangnya, namun masih bersifat ala kadar dan tidak mempedulikan budaya, hanya mementingkan penjualannya sehingga sampah moral pun disertakan.

Bisnis bidang budaya dan seni tersebut dapat menguntungkan dua arah, yakni mengangkat nama Aceh, menghasilkan uang  sekaligus mengangkat nama pembuatnya. Hal itu yang mesti menjadi bahan pertimbangan. (more…)

THE DUTCH RULE IN ACEH: WAYS OF COMFORTING THE ANTI-COLONIAL SPIRIT

Atjehnese hoofden te Kutaradja

Nia Deliana

The Dutch waged war against the Acehnese officially in 1873, which ended with the retreat of their troops due to the death of the captain Kohler by the Acehnese. Their second expedition in 1874, however, succeeded to occupy the main palace of the sultanate in Kutaradja. The Sultan fled from his palace days before the attack. This war continued for 40 years since then.

For decades, the Acehnese sacrificed their lives for generations to oppose colonialism and imperialism in their land. As a result, not only hundreds of thousands of lives were sacrificed including high number of ulama and umara, but also, intentionally or unintentionally, bargaining their values for the comfortable lives under the colonial power was the cost of this colonialism.

(more…)

KOTA PUSAKA BANDA ACEH, BERSUNGGUH DIPERJUANGKAN ATAU HANYA KAMPANYE POLITIK?

Suka relawan mengangkat nisan makam Al-Wazir (Perdana Menteri) Seri Maharaja Tun Hasan (wafat 1000 H/1592 M) yang telah terguling sekian lama di Dusun Lampoh Lubok, Gampong Punge Blangcut, Kecamatan Jaya Baru, Banda Aceh, 30 November 2015. @mapesaaceh.com

Relawan mendirikan kembali nisan makam Al-Wazir (Perdana Menteri) Seri Maharaja Tun Hasan (wafat 1000 H/1592 M) di Dusun Lampoh Lubok, Gampong Punge Blangcut, Kecamatan Jaya Baru, Banda Aceh, 30 November 2015. @mapesaaceh.com

Sebagaimana diketahui, Banda Aceh menjadi tuan rumah Rapat Kerja Nasional Jaringan Kota Pusaka Indonesia (Rakernas JKPI) ke-5 tahun 2016, 7-12 Mei.

Acara itu dihadiri tokoh politik dari berbagai daerah di Indonesia, juga dari luar negeri seperti dari Jepang dan Turki.

Karena dibuat di banda Aceh, acara tersebut merupakan sebuah kebanggan bagi penduduk kota ini sekaligus dapat menaikkan citra pemerintahnya, apalagi Illiza yang telah menyatakan diri maju kembali sebagai balon Wali Kota untuk periode mendatang.

Terlepas dari kebanggan dan kesempatan kampanye politisi, yang penting di sini adalah inti dari acara tersebut, berkenaan dengan tajuknya, Kota Pusaka.

Sebagai salah seorang aktivis kebudayaan yang sejak beberapa tahun lalu mengampanyekan kebudayaan—terutama yang terkait bidang sejarah dan situsnya—di Banda Aceh dan sekitar, saya melihat bahwa Pemerintah Banda Aceh mengabaikan banyak situs sejarahnya. Ini berbanding balik dengan acara Kota Pusaka ke 5, yang Kota Banda Aceh sebagai panitianya dan satu seminarnya bertajuk “Kuta Radja, Menuju Kota Warisan Dunia”.

Tinggalan sejarah berupa batu tulis yang mengandung bukti dan data sejarah penting, yang tersebar di dalam wilayah administrasi Kota Banda Aceh, terbengkalai, rebah, patah, dan terbenam. Pemerintah Kota yang menjadi panitia acara kota pusaka ini belum melakukan apapun yang bermakna untuknya. Mereka hanya melihat satu tempat, Kampung Pande, itu pun ada nisan yang disemen.

Tahun lalu, di salah satu kampung di Banda Aceh, sebuah kompleks makan tua berisi data sejarah, digusur oleh penduduk dan di atasnya dibangun kedai kopi. Penjabat dinas kebudayaan kota ini datang dan menonoton penistaan pada bukti sejarah itu. Begitu pula di tempat lain sebelumnya, banyak.

Di berbagai kampung dalam wilayah kota ini, nisan-nisan yang berusia ratusan tahun itu dicabut, ditimbun, dijadikan batu asah parang, dan sebagainya. Sementara pemerintah yang punya dinas kebudayaan dan juga perwakilan balai pelestarian nilai budaya dan cagar budaya, duduk di kantornya dengan kertas-kertas lama yang sudah usang.

Untung ada Mapesa (Masyarakat Peduli Sejarah Aceh) dan beberapa komunitas lain, yang saban pekan meuseuraya (bergotong-royong) membersihkan, mengangkat, menanam kembali nisan-nisan itu.

Kita tidak perlu jauh-jauh melihat bukti sejarah yang ditelantarkan itu, di Lamdingin, di Lambaro Skep, dekat rumah Wali Kota Banda Aceh, Illiza, sendiri, nisan-nisan itu rebah terabaikan.

Sebelum acara ini, telah beberapa kali pihak organisasi kebudayaan mengusulkan kepada kota ini supaya semua situs itu diselamatkan selagi masih bisa. Sampai kini, hal tersebut masih dalam mimpi.

Dengan kenyataan ini, kampanye Illiza tentang Kota Pusaka di acara tersebut hanyalah sikap politis, tidak bersungguh-sungguh. Jadi, tidak perlu berharap muluk-muluk tentang didaftarkannya Banda Aceh sebagai Kota Warisan Dunia, jika pemerintahnya masih menjadikan isu kebudayaan sebagai barang dagangan politik.

Sikap saya mengkritisi pemerintah Banda Aceh ini bukan berarti saya tidak mendukung Kota Pusaka, tidak. Saya adalah pendukung utama hal itu sekiranya dilakukan dengan ikhlas dan sesuai bicara dengan fakta yang terjadi.

Handai taulan boleh membuka halaman di akun facebook.com-ku, https://www.facebook.com/Dukung-Banda-Aceh-Jadi-Kota-Warisan-Dunia-212428268901258/, itu saya buka sejak beberapa tahun lalu. Sampai tulisan ini tersiarkan, ada 1.919 orang yang menyukai (likes)-nya.

Pesanku kepada Pemerintah Kota Banda Aceh, selamatkan dulu yang sudah ada itu, baru kampanye, jadi bicara anda sesuai dengan kenyataan. Salam Kota Pusaka.

Thayeb Loh Angen, aktivis kebudayaan, penulis novel Aceh 2025.

Sumber: Portalsatu.com Kota Pusaka Banda Aceh, Bersungguh Diperjuangkan atau Hanya Kampanye Politik?

 

 

 

KITAB MASAILUL MUHTADY KINI TERSEDIA DI ANDROID

BANDA ACEH – Kitab Risalah Masa-ilul Muhtady Li-Ikhwanil Mubtady karangan Syaikh Muhammad Baba Daud Rumi, ulama Aceh turunan Turki yang masyhur di Asia Tenggara, yang kuburannya berada di Banda Aceh adalah sebuah kitab yang membicarakan mengenai hukum fikah (fiqh) dan tauhid yang dibuat dalam bentuk soal-jawab.

Di antara perkara yang diperkatakan ialah mengenai perkara fardhu dan sebab yang mewajibkan mandi, perkara istinjak, syarat iman, rukun Islam, syarat Islam serta syarat dan fardhu yang saling berkait dengannya.

Syaikh Baba Daud Rumi juga merupakan murid langsung dari ulama besar Aceh, Syeikh Abdurrauf as-Singkili yang hidup antara tahun 1615-1693.

Sampai sekarang, kitab ini masih menjadi rujukan dayah-dayah di Aceh. Kini, Kitab ini tersedia di Android, pengguna Android bisa menggunakannya dengan cara mengetikkan “Kitab Masailul Muhtady” dalam playstore pada perangkat Android dan langsung bisa mendownload-nya di link: https://play.google.com/store/apps/details?id=com.mit.masailulmuhtady.

Direktur Eksekutif MIT, Teuku Farhan, mengatakan, kitab ini diterjemahkan dalam bahasa Melayu (Jawi) oleh Tgk. Nawawi Hakimis, Pimpinan Dayah Nihayatul Muhtaj, Manggeng, Aceh Barat Daya dan dikembangkan dalam versi Android oleh Tim Multimedia MIT. (more…)

Jokowi’nin Avrupa Ziyareti / Jokowi’s Visit to Europe

jokowi europeMehmet Ozay

Endonezya Devlet Başkanı Joko Widodo başkanlığının ikinci yılında rotasını Avrupa’ya çevirdi. Jokowi’nin 17-23 Nisan günlerinde Almanya, İngiltere, Belçika ve Hollanda’ya gerçekleştirdiği ziyaretleri çeşitli açılardan ele alınmayı hak ediyor. Ziyaretlerin öncelikle AB’nin önde gelen bu ülkelerinin davetiyle gerçekleşti. Ziyaretin arka plânında ise, Endonezya ile Avrupa Birliği arasında varılan Stratejik İşbirliği Anlaması’nı pratiğe dökmek amacı bulunuyor. AB’nin Endonezya gibi geniş bir coğrafyaya ve halen oldukça önemli yer ve deniz altı değerlerine sahip olması Birliğin bu Adalar ülkesine ilgisini ortaya koyuyor. İşin bir diğer yanında, Çin’in kendini gösterdiği bir  bölgede, ASEAN içerisinde de potansiyel liderliğe sahip oluşu da yabana atılır bir neden olmasa gerek.

(more…)

ACEH DALAM SKENARIO PENAKLUKKAN SPANYOL

foto jbukuNia Deliana

Jakobus van de Koutere alias Jacques de Coutre alias Jacques de Couto (JDC) adalah seorang pedagang berkebangsaan Spanyol dari Belgia yang diperkirakan lahir tahun 1572 dan meninggal pada tahun 1640. Ia menghabiskan kira-kira lebih dari 30 tahun di Asia sebagai pedagang independen sekaligus informant Spanyol di Hindia Timur.

JDC menulis diari perjalanannya di Asia Tenggara dengan dibantu oleh putranya bernama Esteban. Catatan hidup yang ditulis dalam Bahasa Spanyol ini berada dalam perawatan Biblioteca Nacional de Espana (Perpustakaan Nasional Spanyol) di Madrid. Dengan bantuan pakar sejarah Portugis, Peter Borschberg dan Roopanjali Roy, buku yang berjudul asli Vida de Jaques de Coutre telah diterbitkan dalam Bahasa Inggris dengan judul The Memoirs and the Memorials of Jacques de Coutre: Security, Trade and Society on 16th-17th century Southeast Asia (Riwayat Hidup dan Kenangan Jacques de Coutre: Keamanan, Perdagangan dan Masyarakat Asia Tenggara pada abad ke-16 dan ke-17). Penerbitan buku ini didanai oleh kantor Arsip Nasional Singapura. Catatan JDC menyuguhkan gambaran penting realita keamanan, perdagangan, dan masyarakat Eropa di kawasan Nusantara pada periode tersebut di atas.

(more…)

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.